Resume Buku Satanic Finance
Resume Buku Satanic Finance
Buku Satanic Finance ditulis dengan semangat baru. Dengan penuturan sederhana dalam kisah dimana seolah-olah setan sendiri yang berbicara. Bukan karena penulis bisa berbicara dengan setan. tapi sekedar untuk memberikan ilustrasi bagaimana setan beraksi. Tiada lain dimaksudkan untuk bisa membingkai bahwa kebusukan ekonomi ada di tengah-tengah kita. Kadang tanpa kita sadari sistem finansial setan nyata-nyata kita anut dan bahkan menjadi kebenaran sehari-hari. Buku Satanic Finance terdiri dari lima bab dengan pokok bahasan yang saling berkaitan.
Bab satu membahas The Three Pilar of Evil. Tiga pilar yang paling mendasar serta menjadi jurus utama para setan dalam menghancurkan sistem perekonomian adalah Fiat money (uang kertas), Fractional Reserve Requirement (cadangan minimum) dan Interest (bunga). Hal inilah yang dapat membangkitkan kehancuran ekonomi apabila terus diterapkan dalam sistem perekonomian.
Dalam bab ini juga mengisahkan tentang suku Sukus dan Tukus. Suatu hari mereka kedatangan tamu bernama Gago dan Sago. Mereka memperkenalkan uang kertas kepada suku Sukus dan Tukus. Mereka juga memperkenalkan praktek riba kepada suku Sukus dan Tukus. Gago dan Sago mendapat respon positif, suku Sukus dan Tukus sudah terpengaruh oleh tipu daya mereka. Koin emas dan sistem barter sudah tak lagi digunakan untuk transaksi jual beli. Hari berganti. Bulan pun berjalan begitu cepat. Tak terasa satu tahun telah berlalu. Pelan tapi pasti. Suku Sukus dan Tukus mulai merasakan harga-harga barang dan jasa menjadi naik. Mereka tidak tahu apa penyebabnya. Banyak diantara orang yang meminjam uang tidak mampu membayar. Bukan karena mereka pemalas atau penganggur, melainkan karena mereka tak sanggup membayar pinjaman dengan bunganya. Kemiskinan tiba-tiba seperti menjadi endemik yang terus menyebar cepat.
Maka inilah saat-saat krisis dalam ekonomi, dimana orang-orang menjaadi miskin akibat harta mereka yang ikut disita oleh bank karena mereka tidak mampu membayar pinjaman. Rasa tolong menolong yang dulu menjadi budaya masyarakat hilang seketika karena mereka disibukkan dengan hutang dan urusan masing-masing yang tak kunjung selesai yang akhirnya menjadi masyarakat yang individualis dan egois.
Bab dua membahas The Labyrinth of Debt. Bab ini menjelaskan tentang bahaya hutang yang menjerat anak manusia. Dalam dunia setan, hutang anak adam adalah cara yang mudah untuk menjerat manusia ke dalam dosa. Hutang juga membuat manusia saling curiga dan bermusuhan yang berakhir dengan putusnya sillaturrrahmi. Kebiasaan berhutang yang ada pada masyarakat saaat ini yang sebenarnya masalah besar di akhirat nanti apabila ia tidak membayar hutangnya, seperti hadis rasul "semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutangnya" (HR. Muslim). Apalagi hutang-hutang yang dilakukan hanya karena ingin mengikuti gaya hidup yang berlebihan dan percuma. Contohnya penggunaan credit card. Kartu kredit seolah-olah pahlawan bagi manusia, padahal kartu kredit sudah di desain menjadi penjahat yang mencekik pemakainya.
Salah satu bahaya hutang dalam perspektif individu hingga negara adalah saat hutang berbuah perbudakan. Dimana negara-negara yang berhutang ke negara lain terpaksa mengikuti aturan main yang diberikan negara peminjam. Solusi dari masalah ini adalah mendobrak sistem ekonomi kapitalis menjadi sistem perekonomian Islam ynag sesuai dengan Al-Quran dan Hadis.
Bab tiga membahas The Green Evil. The Grrenback begitu orang ramai menjuluki dolar. Tidak hanya digunakan di dalam negeri saja, bahkan menjadi cadangan devisa utama bagi negara-negara dunia. Di akhir tahun 90-an 70% cadangan devisa dunia dipenuhi dengan dolar. PAmor dolar memang agak sedikit turun ketika euro ~ teman mudanya sesama fiat money ~ mulai diperkenalkan. Ada yang menggambarkan dolar seperti cek kosong. Kolega setan yang menerbitkan dolar adalah orang yang terpandang. Penerima cek tak secuil pun meragukan cek nya, karena yang memberikan cek adalah orang terpandang dan terhormat. Padahal cek yang ditulis ini tidak ada dananya aliaas kosong. Seperti itulah dolar ~ yang tak ubahnya cek kosong ~ meluas pengaruhnya menjadi alat transaksi global. The Federal Reserve System atau yang biasa disingkat Federal Reserve atau lebih pendek lagi The Fed adlah otoritas yang berhak menerbitkan dan mencetak dolar bukan Departemen Keuangan (U.S Treasury). Anehnya The Fed adalah milik swasta bukan Negara.
Pada bulan Agustus 1971 Presiden Nixon mencabut konvertibilitas dolar, yang menandai berakhirnya sistem Bretton Woods. Mulai saat itu dolar diserahkan sepenuhnya kepada pasar dan tidak lagi di-back up dengan emas sama sekali. Dengan kata lain pemerintah AS tidak lagi melayani pihak manapun yang hendak menukarkan dolarnya dengan emas. Inilah awal dolar tidak lagi sebagai mata uang yang netral. Ia sudah menjadi alat yang bisa digunakan sebagai eksploitasi. Ia sudah menjadi Green Evil. Alat untuk menjaga supremasi dan superioritas AS atas negara-negara lain. Di mana, kata Henry C K Liu, negara AS lah yang boleh mencetak dolar. Sedang masyarakat dunia lainnya menyediakan barang danjasa yang bisa ditukar dengan dolar.
Bab empat membahas The Heaven's Currency. Mata uang surga, begitulah julukan bagi dinar dan dirham. Dinar dan dirham dibuat dari emas dan perak yang layak dijadikan mata uang universal karena emas dan perak sangat stabil sepanjang sejarah. Berbeda dengan fiat money yang cenderung mengalami inflasi setiap saat, emas dan perak sangat kuat sehingga hampir tidak terkena inflasi. Para ahli membuktikan penggunaan emas dalam transaksi perdagangan dunia akan menguntungkan. Karena emas menghilangkan resiko volalitas dari mata uang. Dengan absennya volalitas (yang disebabkan naik turunnya valas) diyakini akan mempromosikan perdagangan lebih besar.
Penerapan dinar dan dirham akan menggusur fiat money. Dengan demikian penggandaan uang yang diciptakan dari fiat money maupun fasilitas reserve requirement tidak akan bisa lagi digunakan. Pemerintah tidak dapat mencetak uang semaunya. Dan yang lebih penting lagi, uang yang masuk dalam sistem ekonomi adalah uang riil, bukan uang yang sejatinya janji untuk membayar alias hutang. Emas yang langka diganti dengan kertas yang melimpah. Hebatnya, meski secara instrinsik kertas hampir tidak bernilai, ditangan setan dan para kolega manusia kertas tak ubahnya "emas" as good as gold. Karena uang tak lagi ditentukan oleh kelangkaan emas, tapi diserahkan kepada manusia yang didudukkan dalam lembaga yang memegang otoritas moneter.
Bab lima membahas El Libertador. Sebutan yang pernah disematkan kepada Simon Bolivar karena telah memerdekakan dan membebaskan sebagian besar negara-negara Amerika Latin. Begitupula harapan penulis akan adanya El Libertador yang akan melakukan kampanye perlawanan dengan menyuarakan perlunya sistem baru yang bisa membebaskan dari sistem setan yang mencekik. Sistem yang merupakan duplikasi dari sistem perbankan yang disebut sebagai perbankan islam. Sistem yang by design menggerogoti ketajaman tiga pilar setan yang hendak merubuhkan pilar ketiga yaitu interest (bunga). Mungkin rate bank konvensional satu atau dua persen lebih tinggi, tapi return yang sudah pasti keselamatan abadi di akhirat tentu tak bisa dibandingkan. Boleh jadi kaya tapi tak bahagia, lalu apa artinya kelimpahan harta tapi hati merana.
Dunia butuh El Libertador yang mengusung ide gila : kembali ke standar emas. Ide ini sungguh menjadi pertarungan hidup mati bagi para setan, Setan yang bertugas di bidang keuangan. Betapa tidak, andai ide ini berhasil maka dua pilar setan yang lain ~ fiat money dan reserve requirement ~ bisa runtuh. Ide yang akan merusak tatanan perjuagan setan.
Setan baru akan cemas ketika manusia mulai salah pilih. Ketika pemimpinnya orang militan yang lebih suka kemandirian. Ketika pemimpinnya siap hidup prihatin dan menggelorakan hasrat hidup apa adanya jauh dari kemanjaan. Pilihan setan hanya satu : mencelakan sang pemimpin, atau ia akan menghempaskan sistem yang telah setan bangun. El Libertador merampasnya dari setan.
By : Azura Miskiah Putri / H54150043

Komentar
Posting Komentar